14.4.21

~The Invisible Hand is the Hand of Allah~



           Adam Smith, terkenal sebagai bapak ekonomi modern. Seorang filsuf politik dan ekonomi yang hidup pada abad ke-18. Pada tahun 1776 ia menerbitkan karya yang nantinya menjadi karya paling terkenal dan popular di dunia ekonomi. Karya tersebut berjudul An Inquiry Into The Nature and Causes of the Wealth of Nation (Disingkat The Wealth of Nation). The Wealth of Nation adalah buku pertama yang menggambarkan sejarah perkembangan industri dan perdagangan Eropa, serta dasar-dasar perkembangan perdagangan bebas dan kapitalisme.

 

Satu dari poin utama dari The Wealth of Nation adalah pasar bebas. Poin tersebutlah yang membuat Adam Smith menjadi pelopor semboyan Laissez-faire. Sebuah frasa bahasa Prancis yang berarti biarkan terjadi. Istilah tersebut digunakan pertama kali oleh para psiokrat pada abad ke-18 sebagai bentuk perlawanan terhadap intervensi pemerintah dalam perdagangan.

 

Invisible hand adalah istilah yang sangat popular di dunia ekonomi. Istilah tersebut lebih lengkapnya adalah invisible hand of the market, terdapat di dalam buku The Wealth of Nation. Namun, The Wealth of Nation bukanlah kali pertama bagi Adam Smith dalam memperkenalkan istilah tersebut. Bapak ekonomi modern itu sudah pernah memakainya di dalam buku pertamanya yang berjudul Theory of Moral Sentiments. Bahkan sebelumnya lagi, ia sudah pernah memakai istilah tersebut di dalam esaynya yang berjudul History of Astronomy.

 

Metafora invinsible hand menggambarkan bahwa pada ekonomi pasar terdapat tangan-tangan tak terlihat yang mengendalikan pasar. Langkah terbaik untuk mendapatkan harga dan kualitas terbaik, adalah dengan membiarkan pasar berjalan dengan sendirinya (Laissez-faire).

 

           Menurut Adam Smith, pasar seharusnya dibiarkan bekerja sendiri dan membiarkan invisible hand menggerakkannya sesuai dengan hukum alam. Tidak diganggu oleh intervensi apapun termasuk pemerintah. Pasar dipahami sebagai sebuah living organism yang jika terlalu sering diintervensi akan membuat organisme tersebut menjadi tidak normal dan rusak.

 

Pertama, krisis Amerika Serikat tahun 2008-2009 yang terjadi karena terlalu banyak intervensi pasar oleh Alan Greenspan, Chairman The FED. Kedua, krisis Indonesia tahun 1998 terjadi akibat sifat Presiden Soeharto yang mendambakan stabilitas sosial dan berusaha mengintervensi segala sesuatu. Ketiga, Orang tua yang terlalu banyak mengatur tingkah laku anaknya, maka pada akhirnya anak tersebut akan memberontak. Seperti manusia, pada dasarnya pasar memerlukan ruang gerak yang longgar untuk bereksplorasi. Pasar digerakkan oleh banyak manusia dan membiarkan pasar bergerak dengan apa adanya (alami) adalah salah satu cara menciptakan pasar yang efisien sehingga dapat memberikan manfaat sosial yang maksimal.

 

Akan tetapi, pasar yang dibiarkan berjalan sendiri (Laissez- faire), tanpa ada yang mengontrol, akan memberikan peluang terjadinya penguasaan sepihak oleh yang mendominasi, atau timbulnya kompetisi yang tidak baik, ataupun permasalahan lainnya. Di dalam Islam, negara bertanggung jawab untuk mengatur dan mengawasi ekonomi. Walaupun peran negara sebagai pengatur, tetapi tidak lantas membuat negara bebas untuk dapat campur tangan di dalam pasar.


    Konsep mekanisme pasar islam dapat dirujuk pada hadist Rasulullah ﷺ sebagaimana disampaikan oleh Anas رضي الله عنه,


Anas berkata: Wahai Rasulullah, tentukanlah harga untuk kita! Beliau menjawab, Allah itu sesungguhnya adalah penentu harga, penahan, pencurah, serta pemberi rezki. Aku mengharapkan dapat menemui Tuhanku di mana salah seorang dari kalian tidak menuntutku karena kezaliman dalam hal darah harta.”

 

Dengan adanya hadist ini, jelas bahwa Islam (1160 tahun lalu) jauh lebih dulu mengajarkan konsep ekonomi pasar dari pada Adam Smith.


Rasulullah menolak menetapkan harga dan mengatakan bahwa harga di pasar tidak boleh ditentukan. Ini menunjukkan bahwa kekuatan harga diserahkan kepada mekanisme pasar yang alamiah, karena secara tidak langsung Allah-lah yang menentukannya,

 

Teori inilah yang diadopsi oleh Bapak ekonomi barat, Adam Smith, dengan nama invisible hand. Sehingga oleh Adiwarman Karim dalam kajian ekonomi Islam kontemporer mengatakan bahwa lebih tepat teori invisible hand disebut sebagai God hand (tangan Tuhan).

 

Ibnu Taymiyah lahir lima abad sebelum Adam Smith. Dalam hidupnya, ia pernah mengkaji tentang permasalahan pasar dan memaparkan secara detail tentang kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi  tingkat  harga.  Di  dalam  bukunya yang  berjudul  Al- Hisbah fil  Islam,  beliau  mengatakan  bahwa  di dalam  sebuah  pasar bebas, harga dipengaruhi dan dipertimbangkan oleh kekuatan penawaran dan permintaan. Ketika masyarakat di masanya beranggapan bahwa kenaikan harga merupakan akibat dari ketidakadilan dan tindakan melanggar hukum dari si penjual atau akibat manipulasi pasar. Ibnu Taymiyah langsung membantahnya dan dengan tegas ia mengatakan bahwa harga ditentukan oleh permintaan dan penawaran.

 

Islam secara bahasa berarti aman. Sistem Islam dibuat untuk memberikan rasa aman dan sejahtera bagi umat manusia. Sikap pasar yang memandang intervensi pemerintah sebagai penyebab masalah tidak lain adalah pasar yang trauma dan tidak percaya lagi pada pemerintahnya. Ibarat anak-anak, semua anak terlahir sebagai kertas kosong. Lingkunganlah yang membentuk dan mengarahkan mau ditulis apa pada kertas kosong tersebut. Dari sinilah peran orang tua untuk mengarahkan (mengintervensi) anak tersebut agar dapat menangkap dan menuliskan hal-hal baik pada kertas kosongnya.


~Done~

28.3.21

#Merapuh#

Kita meragi pagi sendiri

Halangi petang membentang tiba

Sudah larut, bertembus-tembus kabut

Darah memekat mengental kecut


Urat menjelma akar

Langit tampak keriput

Samar meraba suara

Buta membaca cahaya 


Hari malang matang menua

Petang beringsut kita kusut dalam doa

Di kaki bayangan sendiri

Kita utuh merapuh


(Banda Aceh, 4 Juli '20)



28 Mar '21, Merajut mendung dengan benang kata-kata-menuju tua.

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ

"Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya."

(Q. S Qaf: 19)

    Kita adalah makhluk yang senang meragi pagi sendiri, menghalang-halangi petang yang sudah pasti membentang tiba. Padahal jelas sudah larut, sudah kita lalui bertembus-tembus kabut. Hari yang memintal minggu, minggu yang merajut waktu, waktu yang terus berlalu, hingga sampai pada darah kita yang sudah memekat, mengental dan meng-kecut. Tidak ada gunanya lari dari maut. Maut dan manusia bagai sumsum dalam tulang. Maut ada dalam diri kita, melekat dan mengikut kemana-mana. Hingga saat yang seharusnya, ia membawa kita pada tempat yang sudah semestinya.

    Lihatlah urat yang menjalar pada tubuh kita, sudah menjelma akar yang mencari-cari, menggapai-gapai, dan ingin kembali pada tanah. Kita yang lahir dan rapuh dengan telentang, memandang langit dari dini hingga tampak keriput sama seperti kita yang sekarang. Kita yang masih ragu-ragu, lugu, dan samar dalam meraba-raba suara yang mana, kita yang tak sadar sudah buta dalam membaca cahaya. Padahal kita sama tahu. kita butuh suara dan cahaya itu. 

    Hingga tiba saatnya, hari yang malang (yang tak sengaja kita tunggu-tunggu datangnya) sudah matang dan menua. Petang yang membentang mulai beringsut, dan kita meng-kusut dalam doa-doa kita yang tiba-tiba bertalu-talu kepada-Nya. 

Di kaki dengan sisa-sisa bayangan kita sendiri, 

kita utuh merapuh~

~The Invisible Hand is the Hand of Allah~

             Adam Smith, terkenal sebagai bapak ekonomi modern. Seorang filsuf pol i t i k d a n e kono m i y a ng hidup p a da a b...