Adam Smith, terkenal sebagai bapak ekonomi modern. Seorang filsuf politik dan ekonomi yang hidup pada abad ke-18. Pada tahun 1776 ia menerbitkan karya
yang nantinya menjadi karya
paling terkenal dan popular di dunia ekonomi. Karya tersebut berjudul An Inquiry Into The Nature and Causes of the Wealth of Nation (Disingkat The Wealth of Nation). The Wealth of Nation adalah buku
pertama yang menggambarkan sejarah perkembangan industri dan perdagangan Eropa, serta dasar-dasar perkembangan perdagangan bebas
dan kapitalisme.
Satu
dari poin utama dari The Wealth of Nation adalah pasar bebas. Poin tersebutlah yang
membuat Adam Smith menjadi pelopor semboyan Laissez-faire. Sebuah frasa bahasa Prancis yang berarti “biarkan terjadi”. Istilah tersebut
digunakan pertama kali oleh para psiokrat pada abad ke-18 sebagai bentuk
perlawanan terhadap intervensi
pemerintah dalam perdagangan.
Invisible hand adalah istilah yang sangat popular
di dunia ekonomi. Istilah tersebut lebih
lengkapnya adalah invisible hand of the market, terdapat di dalam buku The Wealth of
Nation. Namun, The
Wealth of Nation
bukanlah kali pertama bagi Adam Smith
dalam memperkenalkan istilah tersebut.
Bapak ekonomi modern
itu sudah pernah memakainya di dalam buku pertamanya yang berjudul Theory of
Moral Sentiments. Bahkan sebelumnya lagi, ia sudah pernah memakai istilah tersebut di dalam esaynya yang berjudul
History of
Astronomy.
Metafora invinsible
hand menggambarkan bahwa pada ekonomi
pasar
terdapat tangan-tangan tak terlihat yang mengendalikan pasar. Langkah terbaik untuk mendapatkan harga dan kualitas
terbaik, adalah
dengan membiarkan
pasar berjalan dengan
sendirinya (Laissez-faire).
Menurut Adam Smith, pasar seharusnya dibiarkan bekerja sendiri dan membiarkan invisible hand menggerakkannya sesuai dengan hukum alam. Tidak diganggu
oleh intervensi apapun termasuk pemerintah. Pasar dipahami
sebagai sebuah living organism yang jika terlalu sering diintervensi akan
membuat organisme tersebut
menjadi
tidak
normal dan rusak.
Pertama, krisis Amerika
Serikat tahun 2008-2009 yang terjadi
karena
terlalu banyak intervensi pasar
oleh Alan Greenspan, Chairman
The FED. Kedua, krisis Indonesia tahun 1998 terjadi akibat sifat Presiden
Soeharto yang mendambakan stabilitas sosial dan
berusaha mengintervensi segala sesuatu. Ketiga, Orang tua yang terlalu banyak mengatur tingkah laku anaknya, maka pada akhirnya anak tersebut akan memberontak. Seperti manusia, pada dasarnya pasar memerlukan ruang
gerak
yang
longgar untuk bereksplorasi. Pasar
digerakkan oleh banyak
manusia dan membiarkan pasar bergerak dengan apa adanya (alami) adalah salah satu cara
menciptakan pasar yang efisien sehingga dapat memberikan
manfaat sosial yang maksimal.
Akan tetapi, pasar yang dibiarkan berjalan sendiri (Laissez- faire), tanpa ada yang mengontrol, akan memberikan peluang terjadinya penguasaan sepihak oleh yang mendominasi, atau timbulnya kompetisi yang tidak baik, ataupun permasalahan lainnya. Di dalam Islam, negara bertanggung jawab untuk mengatur dan mengawasi ekonomi. Walaupun peran negara sebagai pengatur, tetapi tidak lantas membuat negara bebas untuk dapat campur tangan di dalam pasar.
Konsep mekanisme pasar islam dapat dirujuk pada hadist Rasulullah ﷺ sebagaimana disampaikan oleh Anas رضي الله عنه,
“Anas berkata: Wahai Rasulullah, tentukanlah harga untuk
kita!
Beliau
menjawab, Allah itu sesungguhnya
adalah penentu harga, penahan, pencurah, serta pemberi rezki. Aku
mengharapkan dapat menemui Tuhanku di mana salah seorang dari kalian tidak
menuntutku karena
kezaliman dalam hal darah
harta.”
Dengan adanya hadist ini, jelas bahwa Islam (1160 tahun lalu) jauh lebih dulu mengajarkan
konsep
ekonomi pasar dari
pada Adam Smith.
Rasulullah menolak menetapkan harga dan mengatakan bahwa harga di pasar tidak boleh ditentukan. Ini menunjukkan bahwa kekuatan harga diserahkan kepada mekanisme pasar yang alamiah, karena secara tidak langsung Allah-lah yang menentukannya,
Teori inilah yang diadopsi oleh Bapak ekonomi
barat, Adam Smith, dengan nama invisible
hand. Sehingga oleh Adiwarman Karim
dalam kajian ekonomi Islam kontemporer mengatakan bahwa lebih tepat
teori invisible hand disebut
sebagai God hand (tangan Tuhan).
Ibnu Taymiyah lahir lima abad sebelum Adam Smith. Dalam
hidupnya, ia pernah mengkaji tentang
permasalahan pasar dan
memaparkan secara detail tentang
kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi
tingkat harga.
Di dalam bukunya yang
berjudul
Al- Hisbah fil Islam, beliau mengatakan bahwa
di
dalam sebuah
pasar
bebas, harga
dipengaruhi dan dipertimbangkan oleh kekuatan
penawaran dan permintaan. Ketika masyarakat di masanya beranggapan
bahwa kenaikan harga merupakan akibat dari ketidakadilan dan
tindakan melanggar hukum dari si penjual atau akibat manipulasi pasar. Ibnu
Taymiyah langsung membantahnya dan
dengan tegas
ia mengatakan bahwa harga
ditentukan
oleh permintaan dan penawaran.
Islam secara bahasa berarti aman. Sistem Islam dibuat untuk memberikan rasa aman dan sejahtera bagi umat manusia. Sikap pasar yang memandang intervensi pemerintah sebagai penyebab masalah tidak lain adalah pasar yang trauma dan tidak percaya lagi pada pemerintahnya. Ibarat anak-anak, semua anak terlahir sebagai kertas kosong. Lingkunganlah yang membentuk dan mengarahkan mau ditulis apa pada kertas kosong tersebut. Dari sinilah peran orang tua untuk mengarahkan (mengintervensi) anak tersebut agar dapat menangkap dan menuliskan hal-hal baik pada kertas kosongnya.
~Done~
