Kita meragi pagi sendiri
Halangi petang membentang tiba
Sudah larut, bertembus-tembus kabut
Darah memekat mengental kecut
Urat menjelma akar
Langit tampak keriput
Samar meraba suara
Buta membaca cahaya
Hari malang matang menua
Petang beringsut kita kusut dalam doa
Di kaki bayangan sendiri
Kita utuh merapuh
(Banda Aceh, 4 Juli '20)
28 Mar '21, Merajut mendung dengan benang kata-kata-menuju tua.
وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ
"Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya."
(Q. S Qaf: 19)
Kita adalah makhluk yang senang meragi pagi sendiri, menghalang-halangi petang yang sudah pasti membentang tiba. Padahal jelas sudah larut, sudah kita lalui bertembus-tembus kabut. Hari yang memintal minggu, minggu yang merajut waktu, waktu yang terus berlalu, hingga sampai pada darah kita yang sudah memekat, mengental dan meng-kecut. Tidak ada gunanya lari dari maut. Maut dan manusia bagai sumsum dalam tulang. Maut ada dalam diri kita, melekat dan mengikut kemana-mana. Hingga saat yang seharusnya, ia membawa kita pada tempat yang sudah semestinya.
Lihatlah urat yang menjalar pada tubuh kita, sudah menjelma akar yang mencari-cari, menggapai-gapai, dan ingin kembali pada tanah. Kita yang lahir dan rapuh dengan telentang, memandang langit dari dini hingga tampak keriput sama seperti kita yang sekarang. Kita yang masih ragu-ragu, lugu, dan samar dalam meraba-raba suara yang mana, kita yang tak sadar sudah buta dalam membaca cahaya. Padahal kita sama tahu. kita butuh suara dan cahaya itu.
Hingga tiba saatnya, hari yang malang (yang tak sengaja kita tunggu-tunggu datangnya) sudah matang dan menua. Petang yang membentang mulai beringsut, dan kita meng-kusut dalam doa-doa kita yang tiba-tiba bertalu-talu kepada-Nya.
Di kaki dengan sisa-sisa bayangan kita sendiri,
kita utuh merapuh~
2 komentar:
Keren kk
Kerennn
Posting Komentar